Kiat Sukses dengan Tawakkal

by • 23/04/2010 • AqidahComments (0)256

Sahabatku, pernahkah kalian menjumpai beberapa fenomena di bawah ini?

Pertama, ketika ujian sekolah mulai menjelang, ada di antara teman sekelas kita yang mengatakan, ”Ah, ga usah belajar ah. Nanti kalau memang rezekiku lagi baik juga bakalan dapat nilai bagus.”

Kedua, teman kita yang lain mengatakan, ”Aku akan belajar semalam suntuk, nggak makan, nggak minum, yang penting belajar terus pakai sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), biar nanti dapet nilai memuaskan!”

Dua kondisi di atas mungkin pernah kita jumpai. Entah itu terjadi pada teman kita, saudara kita, atau bahkan terjadi pada diri kita sendiri. Kalian termasuk yang mana hayo???

 

Tahukah kalian wahai sahabatku, terlepas dari dua kondisi di atas sebenarnya ada satu hal yang mereka lupakan. Yakni kekuatan tawakkal.

Lalu, apa yang dimaksud dengan tawakkal itu? Mari kita simak baik-baik pembahasan berikut ini.

Mengenal Makna Tawakkal

Tawakkal merupakan inti ibadah. Bahkan tawakkal juga merupakan salah satu tanda orang beriman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23).

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. [Muroqotul Mafatih, 9/156]

Dari pengertian di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah Ta’ala. Akan tetapi, bukanlah berarti kita pasrah sepenuhnya dengan meninggalkan usaha untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Entah itu kesuksesan dalam mencari rizki, kesuksesan dalam belajar, ataupun kesuksesan untuk memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah. Lihatlah, bagaimana pernah ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah!, Apakah aku ikat dulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. [Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368]

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, ‘Ia adalah laki-laki yang sungguh jahil (bodoh). Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ” Allah telah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku “

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. Para sahabat pun berdagang. Mereka pun mengolah kurma. Yang patut dijadikan qudwah (teladan) adalah mereka (yaitu para sahabat).[Fathul Bari, Ibnu Hajar ‘Al Asqolani, 11/305]

Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki.

Maka juga merupakan suatu kesalahan dengan apa yang dilakukan oleh dua orang teman kita dalam prolog di atas.

Teman yang pertama, dia sebenarnya meniatkan perbuatannya sebagai sebuah tawakkal, akan tetapi dia telah meninggalkan usaha yang seharusnya ia tempuh terlebih dahulu. Sedangkan teman yang kedua, dia telah bekerja keras dengan usahanya, namun ternyata dia lupa untuk memasrahkan segala usahanya kepada Allah Ta’ala. Dia hanya bergantung kepada usaha yang dia lakukan semata. Dan ini adalah dilarang.

Hendaknya ketika kita telah berusaha keras untuk mewujudkan suatu hal, maka berserah dirilah kepada Allah Ta’ala. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala akan memberikan hasil yang terbaik atas usaha yang kita lakukan.

Tawakkal itu Kunci Sukses!

Ya, tawakkal merupakan salah satu cara untuk menuju kesuksesan. Dengan bertawakkal, maka Allah Ta’ala akan mencukupi keperluan kita. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. [Ath-Thalaq : 3].

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah pernah berkata, “Tidaklah seseorang berharap dan bersandar kepada sesuatu makhluk pun, melainkan makhluk itu akan mengecewakan dan memupuskan harapannya. Namun barangsiapa menyerahkan segenap urusannya kepada Allah niscaya ia akan mendapat apa yang ia cita-citakan.”

Sahabatku, sudahkah engkau membaca kisah Nabi Zakaria ‘alaihissalam? Lihatlah, di usia beliau yang telah lanjut, beliau dikarunia seorang anak, yaitu Nabi Yahya ‘alaihissalam yang termasuk manusia dan nabi yang paling mulia. Demikian juga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang mendapat kabar gembira dengan lahirnya seorang anak, padahal istrinya telah putus asa dan mengatakan,

قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

“Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku pun sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat aneh. (QS. Hud: 72).

Wahai sahabatku, bersimpuhlah di hadapan Allah Ta’ala, gantungkanlah segala harapanmu kepada-Nya, pulangkan segala urusanmu kepada Dzat yang Maha Pemurah, tinggalkan semua ketergantunganmu terhadap selain-Nya dan jangan berharap kecuali kepada-Nya. Tatkala tawakkal dan harapan telah mencapai puncaknya, lalu hati pun melebur dalam do’a, pastilah do’a itu akan diterima.

مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An-Naml: 62).

Maraji’:

-Kitab Tauhid bab Tawakkal kepada Allah, Syaikh Muhammad At-Tamimi.

-Langkah Pasti Menuju Bahagia, Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim, hal 54-55, penerbit Daar An-Naba’.

 

Penulis: Aufanuri Ihrishii (Santri Ma’had Umar-Puteri)

Muroja’ah: M.A. Tuasikal

Artikel www.remajaislam.com

Pin It

Related Posts