Banyak orang berharap mendapatkan rahmat Allah, tetapi tidak sedikit yang lupa menempuh jalan yang mengantarkan kepada rahmat tersebut. Dalam Islam, harapan (raja’) bukan sekadar angan-angan, melainkan harus dibangun di atas iman, amal saleh, dan tawakal kepada Allah. Pada pembahasan Riyadhus Shalihin Bab Ke-52 ini, kita akan melihat bagaimana Allah membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.
Riyadhus Shalihin 52 Bab : Keutamaan Raja’ (Berharap)
Menyerahkan Urusan kepada Allah, Jalan Menuju Kecukupan
Allah berfirman mengisahkan tentang hambanya yang saleh,
“وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ * فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا”
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya * Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.” (QS. Ghafir: 44–45)
Pelajaran Ayat
1. Menyerahkan urusan kepada Allah Ta’ala merupakan tanda benarnya tawakal seorang hamba.
2. Barangsiapa menyerahkan urusannya kepada Tuhannya ( Allah ), Allah akan mencukupi kebutuhan, dan membuatnya merasa cukup, tidak membutuhkan selain-Nya.
Allah Sesuai dengan Prasangka Hamba-Nya
Hadits #440
1/440 ــ وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه عن رسولِ الله صلى الله عليه وسلم أنَّهُ قال: «قال الله _عز وجل_: أنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدي بي، وأنا مَعَهُ حَيْثُ يَذكُرُني، وَاللهِ لَلهُ أَفْرَحُ بتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلاةِ، وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إلَيه ذراعاً، وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعاً تَقَرَّبْتُ إليه بَاعاً، وإذا أَقْبَلَ إلَيَّ يَمْشي أَقبَلتُ إلَيه أُهَرْوِلُ». متفق عليه، وهذا لفظ إحدىٰ رِوايات مسلم. وتقدَّم شرحُهُ في الباب قبله.
Dari Abu Hurrah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda، “Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah lebih bergembira dengan tobat hamba-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali barangnya yang hilang di padang pasir. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan apabila ia datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (Muttafaq ‘alaih. Ini adalah lafaz salah satu riwayat Muslim) [HR. Bukhari, 3:384 dan Muslim, no. 2675]
Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan
“وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي” Dengan huruf nuun.
Sedangkan dalam riwayat ini disebutkan
“وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِي” dengan huruf tsa’.
Dan kedua riwayat tersebut sahih.
Pelajaran dari Hadits
1. Dorongan untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala, mengharap rahmat-Nya, bersegera taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai ketaatan.
2. Husnuzan kepada Allah berarti mengharapkan apa yang ada di sisi Allah walaupun itu hal yang gaib / belum tampak, serta memutus ketergantungan terhadap apa yang ada pada diri sendiri dan pada makhluk lain, meskipun hal itu sudah ada di hadapanmu.
Faedah Hadits
– Kapan seorang hamba itu disebut berprasangka baik kepada Allah?
Hal itu terjadi apabila ia melaksanakan hal hal yang akan mendatangkan karunia Allah dan rahmat-Nya; ia mengerjakan amal-amal saleh, dan berbaik sangka kepada Allah bahwa Allah akan menerimanya.
Adapun orang yang berbaik sangka tanpa beramal, bahkan ia durhaka, bermaksiat kepada-Nya, maka itu adalah kebiasaan orang orang lemah, merugi, dan bodoh.
Husnuzan Menjelang Kematian
Hadits #441
2/441 ــ وعن جابرِ بنِ عبدِ الله رضي الله عنه أَنَّهُ سمعَ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ مَوْتِهِ بثلاثَةِ أَيَّامٍ يقولُ: «لاَ يمُوتَنَّ أحَدُكُم إلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بالله _عز وجل_». رواه مسلم.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ tiga hari sebelum wafat beliau bersabda:
“Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah” (HR. Muslim, no. 2877)
“ لَا يَمُوتَنَّ ” :
Maksudnya : “hendaklah ia berusaha agar kematian tidak menjemputnya kecuali dalam keadaan seperti ini”
Pelajaran dari Hadits
1. Seorang hamba wajib atasnya untuk berprasangka baik kepada Allah, namun harus disertai dengan melakukan sebab-sebab yang akan membawanya untuk mendapatkan hal yang diharap; seperti keyakinan yang jujur dan benar, baiknya pekerjaan/usaha, dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi
2. Besarnya semangat Nabi Muhammad dalam membimbing umatnya, dan limpahnya kasih sayang beliau kepada orang-orang beriman dalam segala keadaan, bahkan ketika dalam kondisi sakit menjelang kematian beliau tetap memberi nasihat untuk umatnya.
3. Dorongan untuk memiliki harapan yang baik kepada Allah, terutama saat menghadapi kematian; karena harapan pada kondisi tersebut merupakan keadaan terbaik seorang hamba.
Rahmat Allah Lebih Luas dari Dosa Hamba
Hadits #442
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَ”
“Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas dosa-dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli.
Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. at-Tirmidzi, no. 3540. Ia berkata: Hadits hasan. Menurut Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, hadits ini hasan lighairihi, hasan dilihat dari jalur lainnya)
Penjelasan Lafaz
عَنَانُ السَّمَاءِ dengan fathah pada huruf ‘ain. Ada yang mengatakan maknanya adalah sesuatu yang tampak dari langit ketika engkau mengangkat kepala. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah awan.
قُرَابُ الْأَرْضِ dengan dhammah pada huruf qaf, dan ada pula yang membacanya dengan kasrah. Bacaan dhammah lebih sahih dan lebih masyhur. Maknanya adalah sesuatu yang mendekati sepenuh isi bumi. Wallahu a‘lam.
Petunjuk dari Hadits
1. Luasnya karunia Allah dan kemurahaan-Nya; rahmatnya meluas dan meliputi segala sesuatu, dan tidaklah Allah menciptakan makhluk kecuali untuk merahmati mereka melalui penghambaan mereka kepada-Nya, bukan untuk menyiksa mereka.
2. Dorongan untuk memperbanyak istigfar, doa, berharap kepada Allah, karena semua itu termasuk sifat orang-orang beriman.
3. Keutamaan tauhid, serta penjelasan bahwa tauhid merupakan salah satu penghapus dosan yang paling agung.
Referensi
1. Al-Hilali, S. b. ‘I. (1430 H). Bahjah an-Nazhirin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 1). Dar Ibnul Jauzi.
2. Al-Syam al-Mubarak. (1434 H). Ruh wa rayahin syarh Riyadh ash-Shalihin (Cet. 3). Damaskus.
—-
Selesai ditulis di Pondok Pesantren Darush Sholihin, 2 Muharram 1448 H, 17 Juni 2026
Penulis: Ruwaifi Tuasikal
Artikel RemajaIslam.Com




