Pernah nggak sih kita kagum sama sosok inspiratif, lalu kepikiran “aku pengen banget bisa kayak dia”? Nah, dalam Islam, sosok paling layak untuk kita teladani itu adalah Nabi kita, Muhammad ﷺ. Tapi… biar kita bisa benar-benar meneladani beliau, kita perlu kenal dulu perjalanan hidupnya. Itulah yang disebut sīrah.
Apa itu Sīrah?
Sīrah berarti perjalanan hidup. Ketika digabung dengan “Nabi Muhammad ﷺ”, maka maksudnya adalah kisah lengkap perjalanan beliau—mulai dari lahir, masa kecil, masa remaja, diangkat menjadi Nabi, berdakwah, hijrah, memimpin umat, hingga wafat.
Dengan mempelajari sīrah, kita mengenal lebih dekat sosok paling mulia dalam Islam, yang menjadi panutan utama umat manusia.
Kenapa siroh penting?
Sīrah bukan sekadar kisah sejarah. Ada beberapa alasan mengapa mempelajarinya sangat penting:
-
Contoh nyata penerapan Al-Qur’an
Aisyah radhiyallāhu ‘anha berkata: “Akhlak Nabi itu adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim). -
Meneladani akhlak mulia
Dari cara beliau berdagang, bersikap sabar, hingga memperlakukan keluarga dengan kasih sayang. -
Menguatkan cinta kepada Nabi ﷺ
Cinta sejati bukan sekadar perasaan, tetapi ditunjukkan dengan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Belajar Sīrah
Belajar siroh itu bukan sekadar bikin kita terharu karena kisah beliau. Bukan juga cuma nostalgia sejarah. Tujuan utamanya adalah: supaya kita bisa mengikuti Nabi ﷺ dengan benar.
Jadi, kalau kita bilang cinta Nabi, itu bukan hanya dengan lisan atau perasaan. Tapi dengan cara meneladani beliau: bagaimana beliau sholat, bagaimana beliau jujur dalam berdagang, bagaimana beliau sabar menghadapi musuh, sampai bagaimana beliau memperlakukan keluarga dengan penuh kasih sayang.
Cinta tanpa mengikuti itu cuma emosional. Tapi cinta yang benar, adalah cinta yang bikin kita bergerak meniru.
Kondisi Dunia & Jazirah Arab Sebelum Kenabian
Sekarang, biar lebih kerasa istimewanya Nabi ﷺ, kita coba lihat dulu kondisi dunia sebelum beliau diutus.
-
Di dunia internasional waktu itu: ada dua kekaisaran raksasa – Romawi di barat, Persia di timur. Keduanya penuh dengan perebutan kekuasaan, peperangan, dan penindasan.
-
Di Jazirah Arab sendiri: mayoritas masyarakatnya hidup dalam kebodohan. Disebut zaman Jahiliyah. Banyak yang menyembah berhala, ada yang menyembah matahari, bulan, bahkan pohon. Budaya kesukuan sangat kuat, peperangan antar kabilah sering terjadi, perempuan dianggap rendah, dan akhlak mulia itu langka.
Di tengah kondisi kacau itu, Allah pilih Nabi Muhammad ﷺ sebagai cahaya penerang. Allah pilih tanah Arab yang waktu itu dianggap “pinggiran dunia” untuk lahirnya risalah terbesar. Karena di situlah pesan Islam bisa berkembang bebas, nggak ditunggangi oleh kekuatan imperium besar.
Hikmah untuk Kita
Apa pelajaran dari pengantar ini?
-
Pertama, belajar siroh bikin kita sadar bahwa Islam datang di saat dunia sedang butuh cahaya. Dan hari ini, dunia juga butuh cahaya Islam.
-
Kedua, kalau kita bilang cinta Nabi, buktinya adalah meniru beliau. Karena beliau bukan cuma tokoh sejarah, tapi role model kita sehari-hari.
-
Ketiga, kita belajar bahwa perubahan besar itu bisa dimulai dari keadaan yang kelihatannya kecil dan tidak dianggap—seperti bangsa Arab dulu.
Refleksi
Jadi teman-teman, memulai perjalanan belajar siroh ini ibarat membuka peta hidup. Semakin kita kenal Nabi, semakin kita tahu arah jalan yang benar. Jangan cuma berhenti di kagum. Ayo belajar dengan hati, biar kita bisa ikut jejak beliau dengan mantap.
Di pertemuan berikutnya, kita bakal masuk ke cerita yang lebih seru: tentang nasab, kelahiran, dan masa kecil Nabi Muhammad ﷺ. Siap-siap, karena di sana kita akan menemukan banyak sekali hikmah sejak beliau masih bayi!
Referensi:
Ar-Rkhiqul Makhtum
Al-Fushul fi Sirotir Rasul
Ditulis oleh: Ahmad Anshori
Artikel: Remajaislam.com