Setiap manusia pasti pernah merasa hampa, seolah hidup ini tanpa arah. Namun, Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Melalui Nabi Muhammad ﷺ, Allah menurunkan wahyu pertama yang menjadi titik awal cahaya kenabian. Peristiwa ini bukan hanya mengubah kehidupan Nabi ﷺ, tetapi juga mengubah wajah dunia.
Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira
Nabi Muhammad ﷺ sejak muda dikenal jujur, amanah, dan berakhlak mulia. Pada usia 40 tahun, beliau sering menyendiri di Gua Hira untuk merenung, menjauh dari hiruk-pikuk jahiliyah. Hingga pada suatu malam penuh berkah, malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Seorang lelaki sederhana, yang tidak bisa membaca, yang tidak bisa menulis, diperintahkan: Iqra’! Bacalah!
Dan sejak saat itu, segalanya tak lagi sama.
Pesan ini sarat makna: Islam adalah agama ilmu. Perubahan besar dalam peradaban manusia dimulai dengan perintah membaca.
Wahyu ini juga menjadi bukti nyata bahwa Al-Qur’an bukan karangan Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah belajar menulis atau membaca sebelumnya. Semua ini datang murni dari Allah ﷻ.
Reaksi Nabi ﷺ dan Dukungan Khadijah
Beliau pulang tergesa, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar.
زملوني… زملوني
“Selimuti aku, selimuti aku…”, begitu kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Apakah kalian bisa membayangkan?
Lelaki yang jujur, kuat, mulia…
Malam itu ketakutan. Karena wahyu pertama bukan sekadar bacaan, ia adalah beban besar sebuah misi. Momen ini menunjukkan sisi manusiawi beliau. Meski mulia, Nabi tetap merasakan takut dan terkejut.
Namun di sampingnya ada seorang istri, Khadijah.
Ia tidak hanya menenangkan, ia juga menguatkan.
كَلّا واللَّهِ ما يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا، إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوائِبِ الحَقِّ،
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu. Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada mereka yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam urusan-urusan kebenaran.” (HR. Muslim)
Kalimat yang sederhana, tapi bagai penopang.
Bukankah dalam setiap perjuangan, kita selalu butuh seseorang yang percaya penuh pada diri kita?
Khadijah kemudian membawa Nabi ﷺ menemui Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab. Waraqah berkata:
هذا النَّامُوسُ الذي نَزَّلَ اللَّهُ علَى مُوسَى، يا لَيْتَنِي فيها جَذَعًا، لَيْتَنِي أكُونُ حَيًّا إذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ
“Itu adalah Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Musa. Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, pasti aku akan menolongmu.” (HR. Muslim)
Sejak awal, sudah ada isyarat bahwa dakwah ini akan penuh ujian dan perjuangan.
Dakwah Secara Rahasia
Setelah wahyu pertama, Nabi ﷺ belum diperintahkan berdakwah secara terbuka. Selama tiga tahun pertama, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Beliau mulai dari orang-orang terdekat:
-
Khadijah, istri beliau, orang pertama yang beriman.
-
Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau yang masih muda.
-
Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau.
-
Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terdekat yang kemudian mengajak banyak sahabat lain masuk Islam.
Melalui Abu Bakar, Islam menyentuh hati para tokoh besar: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan lainnya. Dari lingkaran kecil ini lahirlah generasi emas Islam.
Hikmah Dakwah Rahasia
Mengapa dakwah awal dimulai secara sembunyi-sembunyi? Terdapat beberapa hikmah:
1. Mengokohkan Iman Pribadi
Orang-orang yang masuk Islam di awal benar-benar tulus. Mereka tidak mendapat keuntungan duniawi, justru menghadapi risiko besar.
2. Membangun Kader Inti
Islam butuh pondasi kuat. Lingkaran awal sahabat inilah yang menjadi pilar dakwah selanjutnya.
3. Strategi Dakwah
Tidak semua kebenaran harus disampaikan secara frontal sejak awal. Ada fase bertahap sesuai situasi. Inilah strategi bijak yang diajarkan Allah ﷻ.
Pelajaran Penting untuk Kita
-
Dakwah butuh kesabaran dan strategi. Tidak bisa instan, ada tahapan yang harus dilalui.
-
Kekuatan bukan pada jumlah besar, tetapi kualitas iman. Sahabat awal hanya sedikit, namun keteguhan mereka mengguncang dunia.
-
Mulailah dari lingkaran terdekat. Dakwah efektif dimulai dari keluarga, sahabat, dan orang terdekat.
-
Bekal utama dakwah adalah ilmu. Kata pertama wahyu adalah Iqra’ك bacalah. Tanpa ilmu, dakwah akan rapuh.
Refleksi Kehidupan
Wahyu pertama bukan hanya kisah 1400 tahun lalu.
Ia adalah pelajaran abadi:
-
Hidup ini harus dimulai dengan ilmu. Iqra’! Bacalah!
-
Perubahan besar dimulai dari langkah kecil.
-
Kekuatan bukan dari jumlah, tapi dari keteguhan iman.
-
Dan dalam perjuangan, selalu ada masa-masa sunyi yang harus kita jalani dengan sabar.
Nabi ﷺ memulai semuanya dari satu kata.
Kata yang membelah sunyi: Iqra’!
Dan lihatlah, dari sana dunia tidak lagi sama.
Semoga kita bisa mengambil hikmah: memperbaiki diri dengan ilmu, sabar dalam berdakwah, dan memulai dari yang terdekat. InsyaAllah, pada pembahasan berikutnya kita akan melihat fase baru: dakwah terang-terangan dan reaksi keras Quraisy.
Referensi:
Ar-Rkhiqul Makhtum
Al-Fushul fi Sirotir Rasul
Ditulis oleh: Ahmad Anshori
Artikel: Remajaislam.com