Memboikot Al Qur’an

by • 25/10/2010 • NasehatComments (0)1798

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Dzat yang maha pengasih kepada seluruh makhluq-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam, keluarga, seluruh sahabat dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dengan memohon taufiq dan inayah Allah ta’ala, tulisan ini sengaja kami tulis dalam rangka berbagi sedikit ilmu yang kami telah dapatkan kepada kaum muslimin. Adapun bab ilmu yang akan kami sampaikan pada kesempatan ini adalah hal-hal yang termasuk kedalam tindakan pemboikotan terhadap Al Qur’an.

 

Allah ta’ala berfirman,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan (sesuatu yang diboikot)”. (QS. Al-Furqon: 30)

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah ta’ala menyebutkan sedikitnya ada 5 hal yang termasuk dalam kategori pemboikotan terhadap Al-Qur’an[1]:

1. Memboikot Al-Qur’an dengan tidak mau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan tidak mengimani kandungan Al-Qur’an
2. Memboikot Al-Qur’an dengan tidak mau mengamalkan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan tidak menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an serta tidak mengharamkan apa yang diharamkan Al-Qur’an meskipun membaca Al-Qur’an dan mengimaninya
3. Memboikot Al-Qur’an dengan  tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai hakim, dan tidak mau berhukum dengan Al-Qur’an pada seluruh perkara agama baik itu pokok-pokok agama ataupun cabang-cabangnya.
4. Memboikot Al-Qur’an dengan tidak mau mentadabburi, memahami dan mengenal keinginan Allah ta’ala yang terdapat pada ayat-ayat Al-Qur’an
5. Memboikot Al-Qur’an dengan  enggan untuk mencari kesembuhan dan berobat dengan Al-Qur’an pada seluruh jenis penyakit hati, dan  justru mencari kesembuhan dan obat pada selain yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga yang ringkas ini bermanfaat bagi kami dan seluruh kaum muslimin. Kita mohon kepada Allah agar senantiasa mencurahkan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua sehingga mampu mengamalkan apa yang telah diketahui. Alhamdulillah Aladzi bi ni’matihi tatimus shalihaat

26 Juli 2010, Wisma Rabbani 20:35 malam
Yang lemah dan selalu butuh taufiq Rabbnya

Penulis: Abu Hafsah Putra (Mahasiswa FTP UGM & Santri Ma’had Ilmi)

Artikel www.remajaislam.com



[1] Tulisan diterjemahkan dan diringkas dari Kitab Al Fawaid karangan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullahu ta’ala 1/82, cet II Darul Kutub Ilmiyah Beirut yang kami lihat dari maktabah syamilah

Pin It

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *