Madzi adalah cairan yang keluar sebelum mani. Keduanya sama keluar disebabkan oleh gejolak syahwat dan karakteristiknya sama-sama cairan yang kental. Perbedaannya kalau madzi keluar sebelum mani, madzi berwarna bening sementara mani putih kental, lalu mani keluar dengan memancar, sementara madzi tidak.
Selanjutnya tentang cara membersihkan madzi adalah berikut ini:
Pertama tentang cara membersihkan pakaian yang terkena cairan madzi
Membersihkannya cukup dengan dipercikkan air. Sebagaimana keterangan di dalam hadis ini:
كنت ألقى من المذي شدة وكنت أكثر منه الاغتسال فسألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك فقال: إنما يكفيك بأن تأخذ كفا من ماء فتنضح بها من ثوبك حيث ترى أنه أصابه.
Aku seringkali keluar madzi, sehingga sering mandi karenanya. Kemudian kuceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallaahu‘alaihi wasallam. Beliau berpesan: “Cukup mengambil air setelapak tangan, lalu kamu basahi pakaianmu yang terkena madzi itu sampai terlihat basah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Asy Syaikh Al Albani)
Kedua tentang mensucikan badan saat telah keluar cairan madzi
Dilakukan dengan dua langkah berikut:
1. Mencuci kemaluan.
2. Berwudhu.
Mengingat madzi adalah cairan yang keluar disebabkan oleh dorongan syahwat, maka dalam membersihkannya ada hal yang lebih, yaitu tidak cukup dengan mencuci kemaluan saja, namun harus disertai berwudhu, sebagaimana mani yang keluar karena syahwat, ditambahkan bersuci dengan mandi junub.
Dasarnya adalah hadis dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berikut:
كنت رجلا مذاء فاستحييت أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم لمكان ابنته فأمرت المقداد بن الأسود فسأله فقال: يغسل ذكره وأنثييه ويتوضأ. رواه أبو داود. وفي لفظ: يغسل ذكره ويتوضأ
“Aku mengalami sering keluar air madzi. Dan aku mau bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang hal ini, mengingat aku adalah menantu beliau. Akhirnya meminta tolong kepada Al Miqdad bin Al Aswad untuk menanyakan kepada beliau. Lalu Nabi memberikan jawaban:
يغسل ذكره وأنثييه ويتوضأ
“Cukup dengan mencuci kemaluan dan buah kemaluan lalu berwudhu.”
Di dalam riwayat lain disebutkan “cukup dengan mencuci kemaluan dan berwudhu.” (Muttafaqun ‘alaih)
Yang dimaksud berwudhu dalam mensucikan diri dari madzi bisa dilakukan sesaat setelah madzi keluar atau ketika hendak shalat wajib, sehingga satu wudhu yang diniatkan untuk bersuci dari madzi bisa digunakan untuk shalat juga, tanpa harus berwudhu sendiri – sendiri.
Kemudian kemaluan yang dibersihkan mencakup seluruh area kemaluan. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berdasarkan hadis Ali di atas,
والواجب في المذي أن يغسل الذكر والأنثيين
“Yang wajib dibasuh dalam membersihkan madzi adalah kemaluan dan buah kemaluan.” (Fatawa Ibnu Baz 17/58)
Dan juga keterangan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
ولأنه خارج بشهوة، فجاز أن يجب بغسله أكثر من محله؛ كالمني، وذلك لأن الأنثيين وعاؤه، فغسلهما يقطعه، ويزيل أثره
“Mengingat madzi keluar disebabkan syahwat, maka sah-sah saja bila diwajibkan membasuh kemaluan lebih dari wilayah keluarnya najis, sebagaimana yang berlaku pada mani. Sehingga dalam membersihkan madzi, dibasuh kemaluan beserta buah kemaluan, karena itu adalah wadahnya. Dengan mencakupkan basuhan padanya akan menghilangkan bekas-bekasnya.” (Syarah Al-‘ Umdah 1/103).
Wallahu a’lam bis showab.
Penulis: Ahmad Anshori
Artikel: Remajaislam.com