Kalau kita kagum pada seseorang, biasanya kita penasaran: “Dia lahir di mana? Siapa keluarganya? Masa kecilnya gimana?” Nah, kali ini kita akan membahas asal-usul dan masa kecil manusia paling mulia: Nabi Muhammad ﷺ.
Nasab Nabi Muhammad ﷺ
Nabi ﷺ adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Nasab beliau bersambung hingga Adnan, lalu ke Nabi Ismail ‘alaihissalām, putra Nabi Ibrahim.
Beliau berasal dari suku Quraisy, Bani Hasyim keluarga terhormat yang menjadi penjaga Ka’bah, pemimpin masyarakat, dan dikenal dermawan. Artinya, beliau bukan hanya mulia karena akhlaknya, tapi juga datang dari keluarga yang terhormat. Allah menyiapkan “wadah mulia” untuk kelahiran seorang nabi akhir zaman.
Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ
Nabi ﷺ lahir di Makkah pada tahun terkenal: ‘Āmul Fīl (Tahun Gajah, sekitar 570 M). Saat itu terjadi peristiwa pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah, tetapi Allah binasakan dengan burung ababil (QS. Al-Fīl).
Beliau lahir dari rahim Aminah, dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah wafat sebelumnya. Allah ingin beliau tumbuh ditempa kesabaran, bukan dimanjakan harta.
Riwayat menyebut, saat kelahiran Nabi, cahaya keluar dari ibunda Aminah hingga terlihat istana Busra di Syam. Tanda bahwa kelahiran Nabi adalah misi besar bagi dunia.
Masa Bersama Halimah As-Sa’diyah
Seperti kebiasaan orang Arab waktu itu, bayi Nabi disusukan kepada ibu susuan dari pedalaman, supaya tumbuh sehat di udara desa yang bersih. Beliau dibawa oleh Halimah As-Sa’diyah. Awalnya Halimah susah dapat rezeki, ternaknya kurus, hidupnya serba kekurangan. Tapi sejak membawa Nabi kecil, rezekinya mengalir deras: untanya jadi gemuk, tanahnya subur, kambingnya kenyang. Semua orang di kampung Halimah sampai heran. Itu tanda keberkahan yang datang bersama Nabi ﷺ.
Peristiwa Terbelahnya Dada
Di usia kecil, terjadi peristiwa besar: shaqq ash-shadr. Malaikat Jibril membelah dada Nabi, mencuci hatinya dengan air zamzam, dan mengeluarkan bagian hitam tanda bisikan syaitan.
Hikmahnya apa?
Allah ingin menegaskan bahwa wahyu hanya bisa turun kepada hati yang bersih. Dan hati paling bersih itu adalah hati Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini juga bikin Halimah khawatir, akhirnya beliau kembalikan Nabi kepada ibundanya Aminah.
Masa Yatim dan Ditempa Kesabaran
Nabi ﷺ tumbuh sebagai yatim sejak lahir. Setelah usia 6 tahun, ibundanya Aminah wafat. Beliau lalu diasuh kakeknya, Abdul Muththalib. Tapi tak lama, kakeknya pun wafat saat beliau berusia 8 tahun. Setelah itu, Nabi diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Jadi sejak kecil, hidup beliau penuh ujian kehilangan. Tapi justru dari situlah beliau ditempa jadi sosok yang sabar, mandiri, dan penuh empati terhadap orang-orang lemah. Beliau merasakan betul perihnya kehilangan dan sulitnya hidup, sehingga kelak jadi pemimpin yang sangat peduli pada anak yatim dan fakir miskin.
Hikmah dari Masa Kecil Nabi ﷺ
Beberapa pelajaran penting:
-
Allah pilih nasab terhormat, tapi menjadikan beliau yatim agar tidak sombong.
-
Kelahiran Nabi adalah rahmat dan kasih sayang Allah untuk umat manusia.
-
Hidup beliau membawa keberkahan bahkan sejak bayi.
-
Hati beliau dibersihkan sejak kecil, mengajarkan kita menjaga hati.
-
Ujian hidup justru menguatkan, menjadikan beliau teladan sabar dan empati.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Nasab dan Masa Kecil Nabi Muhammad ﷺ
1. Apa arti ‘Āmul Fīl dalam sejarah Nabi?
‘Āmul Fīl adalah Tahun Gajah, tahun kelahiran Nabi ﷺ ketika pasukan Abrahah hendak menyerang Ka’bah tetapi Allah hancurkan dengan burung ababil.
2. Siapa ibu susuan Nabi Muhammad ﷺ?
Halimah As-Sa’diyah, seorang wanita dari kabilah pedalaman yang mendapat keberkahan sejak mengasuh Nabi kecil.
3. Apa hikmah peristiwa terbelahnya dada Nabi?
Untuk membersihkan hati beliau sejak kecil, agar siap menerima wahyu.
4. Kenapa Nabi Muhammad ﷺ lahir sebagai yatim?
Agar tumbuh mandiri, sabar, dan penuh empati kepada sesama, khususnya anak yatim dan kaum lemah.
Refleksi
Sejak lahir, Allah mempersiapkan Nabi Muhammad ﷺ dengan cara luar biasa. Beliau tumbuh bukan di istana, melainkan dalam pelukan ujian, agar kelak menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Kalau kita ingin meneladani beliau, jangan takut pada kesulitan. Justru di balik ujian, Allah sedang mempersiapkan kita agar lebih sabar, tegar, dan bermanfaat.
Referensi:
Ar-Rkhiqul Makhtum
Al-Fushul fi Sirotir Rasul
Ditulis oleh: Ahmad Anshori
Artikel: Remajaislam.com