Berawal dari Istri yang Shalihah

by • 20/07/2014 • Pojok Muslimah, Pra NikahComments (7)3577

Anak yang shalih berawal dari didikan ibu yang shalihah … Ini menunjukkan pentingnya memiliki istri seperti itu.

Seorang pengajar al-Quran di sebuah masjid mengisahkan:

seorang anak kecil mendatangiku. Dia ingin mendaftar di halaqah Alquran yang aku bina. Aku menanyainya

“apa kamu hafal beberapa ayat alquran?”

“iya”

“coba sekarang bacakan aku beberapa surat di juz amma ya.”

dia pun membacanya.

“apa kamu hafal surat tabarak (almulk -ed)?”

“iya.”

Aku pun kagum dgn hafalannya pada usia yang masih belia ini.

“apa kamu hafal an-nahl?”

“iya”

bertambah kekagumanku padanya. kemudian aku tanyakan tentang surat-surat panjang.

“apa kamu hafal albaqarah?”

“iya”

dia membacanya dan tak salah sedikitpun. meleleh hatiku semakin kagum.

“ananda, apa engkau hafal alquran seluruhnya?”

“iya.”

subhanallah, masya Allah, . .

Aku memintanya untuk datang besok bersama ayah sbg walinya. aku berpikir bagaimana mungkin seorang ayah mampu menjadikan anaknya seperti ini?

esoknya, ia datang bersama ayahnya. Kulihat penampilan sang ayah sepertinya tidak melazimi sunnah dan bukan penghafal.

ayahnya menuturkan kepadaku:

“apakah anda kagum? Aku akan menghentikan kekagumanmu dan kuceritakan bhw dibalik layar kesuksesan anak ini ada seorang wanita dgn kekuatan seribu lelaki. Dialah ibunya.

Aku ceritakan kabar gembira bhw aku punya 3 anak dan semuanya adalah penghafal alquran. anakku yang terakhir berumur 4 thn namun udah menghafal juz amma.

Dulu ibunya, ketika mendidik mereka berbicara, dia memulainya dgn mengajarkan alquran kepada mereka. mengajarkan mereka berbicara yaitu dgn alquran.

Ibunya juga menumbuhkan kompetisi sehat. Siapa yang menghafal duluan, dia akan bebas memilih makan malam di malam itu. Siapa yang duluan muraja’ah dialah yang akan memilih kemana kita akan rihlah saat libur mingguan. Siapa yang mengkhatam duluan, dialah yang akan memilih kemana kita berpergian saat libur panjang.

Inilah metode ibunya.”

Ternyata beginilah wanita mulia, ketika ia sholehah maka sholeh lah pula sebuah rumah tangga.

—-
Diterjemahkan dari page Kun Lillah Kama Yurid Yakun Lakaj Fauqa Ma Turid

Penerjemah: Fachriy Aboe Syazwiena

Pin It

Related Posts

7 Responses to Berawal dari Istri yang Shalihah

  1. Nurul Azizah Zahraeni says:

    subhanallah semoga semua wanita yang membaca artikel ini dapat tergerak hatinya untuk mengikuti jejak wanita yang dikisahkan di atas, termasuk pribadi sy sendiri.. amin

    • Ichwan says:

      LIMA PERTANYAAN
      MEMBUTUHKAN JAWABAN

      بسم الله الرحمن الرحيم

      Akh, titipan pertanyaan:

      Pertanyaan pertama:
      Untuk memisahkan sholat fardu dengan sholat sunnah bisa dilakukan dengan berbincang-bincang dengan orang lain atau pindah tempat. Kalau sudah berbincang, apa masih di syariatkan untuk pindah tempat?.

      Jawaban:
      Termasuk kelalaian dari sebagian orang yang sholat adalah bila telah salam langsung mereka berbincang-bincang atau langsung berpaling, sunnahnya adalah berdzikir terlebih dahulu, walaupun hanya dengan mengucapkan: Astaghfirulloh tiga kali, atau dengan mengucapkan: Allohu Akbar tiga kali, bila sudah mengucapkan ini kemudian berdiri untuk sholat maka tidak mengapa.

      Adapun orang yang berdiri untuk sholat sunnah di tempat dia melakukan sholat wajib maka tidak ada larangan dari demikian itu, dan seseorang yang mau sholat berpindah dari tempat yang dia sholat padanya ke tempat yang lain, bisa jadi dia mencari tempat yang ada sutrahnya, atau ke tempat yang lebih meluas, yang tidak sempit, atau kepada kemungkinan-kemungkinan lainnya, Wallohu A’lam.

      Pertanyaan kedua: Jika sholat sendirian di rumah, bolehkah mengenakan pakaian bergambar, yang mana gambar itu adalah gambar makhluk bernyawa?.

      Jawab:
      Tidak boleh bagi setiap orang untuk memakai pakaian bergambar makhluk bernyawa, baik dia sholat sendirian di rumah, atau dia sholat berjama’ah di masjid atau di musholla, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

      إن الملائكة لا تدخل بيتا فيه صورة

      “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar”.

      Orang yang sholat dengan mengenakan pakaian bergambar, walaupun sholatnya sah, namun dia berdosa, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

      إن أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون

      “Sesungguhnya paling pedihnya manusia azabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar”.

      Orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat gambar makhluk bernyawa ada di rumahnya, tentu akan membuatnya teringat dengan perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam tersebut, karena Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan perkataan itu ketika beliau melihat tirai yang dipajang oleh Aisyah di dalam rumah terdapat gambar makhluk bernyawanya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam memerah mukanya sambil mengatakan perkataannya tersebut.

      Pertanyaan ketiga:
      Ditempat kami ada da’i yang katanya menyeru pada salaf, tapi yang diajarkan kitab “Tafsir Ibnu Katsir, Bulughul Marom, dan Riyadus Sholihin” dan tidak mengajarkan kitab Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sama sekali. Bagaimana yang seperti ini?.

      Jawab:
      Alhamdulillah kitab-kitab yang beliau ajarkan adalah kitab para salafush sholih.

      Dia berda’wah dengan menggunakan kitab-kitab tersebut dan belum mengajarkan kitab Al-Imam An-Najdiy mungkin karena melihat keadaan yang ada, bila orang yang dida’wahi itu adalah orang yang ta’ashub dengan mazhab Asy-Syafi’iy dan benci dengan mazhab Al-Hanbaliy maka diajarkan kitab-kitab dari mazhab mereka, kitab-kitab yang disebutkan itu adalah cocok untuk mereka dan orang-orang awwam.

      Dalam berda’wah seseorang perlu melihat keadaan orang-orang yang dida’wahi, ketika Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz Rodhiyallohu ‘anhu ke Yaman untuk berda’wah maka beliau perintahkan awal yang harus dida’wahkan adalah tauhid, karena para nabi mereka dahulunya menda’wahkan tauhid, dan mereka mengetahui masalah ini, oleh karena itu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika mengirimkan surat kepada pembesar-pembesar mereka, diserukan dengan tauhid ini:

      قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله

      “Katakanlah: Wahai ahlul kitab, kemarilah kalian kepada satu kalimat, yang kalimat itu adalah sama antara kami dan kalian, yaitu untuk kita tidak menyembah melainkan Alloh, dan kita tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tandingan-tandingan selain Alloh”.

      Pertanyaan keempat:
      Untuk berqurban satu ekor sapi dengan patungan, apa disyaratkan masing-masing anggota menyerahkan uang yang sama rata?.

      Jawab:
      Iya, kecuali kalau ada yang kurang uangnya lalu semuanya merelakan baginya dengan semampunya maka ini boleh baginya membayar tidak sama rata dengan yang lainnya.

      Pertanyaan kelima:
      Di tempat kami ada televisi khusus yang menyiarkan dakwah salaf (katanya). Yang dalam siarannya menampilkan sosok ustadznya yang sedang siaran atau berceramah. Bagaimana hukumnya dalam masalah ini? Bagaimana wanita yang juga ikut menonton, sementara penyiar dan pemateri adalah kaum pria?. Mohon berilah faidah kepada kami. Jazakallohu khoir. Barrokallohu fiik.

      Jawab:
      Mereka yang berda’wah lewat televisi tersebut telah terjatuh ke dalam pelanggaran terhadap syari’at yang suci ini, dan wajib bagi mereka meninggalkan perbuatan tersebut dan bertaubat kepada Alloh Ta’ala, perbuatan mereka telah mengundang kemungkaran di atas kemungkaran, diantaranya:
      Pertama: Mengajak para wanita untuk menonton mereka, ini pelanggaran terhadap ayat Alloh yang suci:

      وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن

      “Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman untuk menundukan pandangan mereka”.

      Kedua: Ridho dengan perbuatannya untuk menggambar dan digambar, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

      لعن الله المصورين

      “Alloh mela’nat para tukang gambar”.

      Ketiga:
      Menghalangi dan mencegah masuknya malaikat-malaikat Alloh di dalam rumah para hamba Alloh, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

      الملائكة لاتدخل بيتا فيه كلب ولا صورة

      “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan tidak (akan masuk pula rumah yang ada) gambar”.

      Dijawab oleh:
      Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu Di Darul Hadits Sana’a (20 Dzulqo’dah 1435).

  2. Athif Faishal Firdaus says:

    masak dakwah dengan tv gk boleh..aneh

  3. Renny Kurniawati says:

    bermanfaat sekali artikel ini untuk para wanita. izin copas ya

  4. duniajilbab says:

    terimakasih telah berbagi. Inspiratif sekali blognya. aku suka banget.

  5. Daud Kastara says:

    Subhanalloh

  6. Indah says:

    semoga bisa seperti itu juga.. Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *