Bismillah…
Tak lama lagi kita bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, bulan yang pintu surga seluruhnya dibuka, pintu neraka seluruhnya ditutup. Saat yang sangat tepat untuk meningkatkan amal dan bertaubat dari dosa.
Agar kita bisa sukses menjalani Ramadhan, kita perlu mempersiapkan diri untuk bertarung meraih kemenangan di bulan suci itu. Persiapan menyambut ramadhan perlu dilakukan karena mempersiapkan ibadah adalah suatu yang diperintahkan oleh agama.
Hal ini sebagaimana ditunjukkan dengan:
Pertama, adanya proses yang panjang untuk membebankan perintah dan larangan agama.
Dimulai dari proses anak-anak ⇒ Tamyiz (Usia 7 – 10 tahun) ⇒ Murohiq (10 – 15 tahun) ⇒ Baligh. Di fase ini barulah tiba pada tahap pembebanan syariat yang disebut Mukallaf.
Kedua, ibadah-ibadah sunah yang mengawali ibadah wajib.
Seperti:
-
- Shalat sunah rawatib qobliyah (shalat sunah sebelum shalat fardhu).
- Motivasi mengejar shaf pertama.
- Motivasi tidak tertinggal takbirotul ihram.
- Puasa sunah menjelang ramadhan, yaitu memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban.
Ketiga, tabiat manusia sebagai makhluk yang tipikalnya tidak bisa diajak lari tanpa pemanasan.
Jiwa itu memiliki tabia’at yang sama dengan fisik. Bila fisik kita perlu pemanasan sebelum olahraga yang keras, maka demikian juga jiwa kita.
Keempat, adanya ancaman keras bagi yang tidak sukses di bulan ramadhan.
Sebagaimana ditegaskan di dalam hadis dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, Rasul -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,
رغِمَ أَنفُ (خاب وخسِر) رجلٍ ذُكِرتُ عندَهُ فلم يصلِّ عليَّ، ورَغِمَ أنفُ رجلٍ دخل عليه رمضانُ ثمَّ انسلخَ قبل أن يُغفَرَ له، ورغمَ أنفُ رجلٍ أدرَكَ عندَه أبواهُ الكِبَر فلم يُدْخِلاهُ الجنة
“Celakalah seseorang, (saat) aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orang tuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena kebaktiannya).” (HR. Tirmidzi)
Di dalam hadis yang lain disebutkan bahwa ancaman ini menjadi doa yang dipanjatkan oleh Malaikat Jibril dan diaminkan oleh Nabi -shallallahu’alahima wa sallam-. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma; Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar, dan ketika menaiki anak tangga pertama beliau mengucapkan: Amiin! Kemudian menaiki anak tangga kedua maka beliau mengucapkan: Amiin! Kemudian menaiki anak tangga ketiga maka beliau mengucapkan: Amiin!
Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami mendengarmu mengucapkan “Amiin” tiga kali?
Beliau menjawab:
“لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الْأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ “.
“Ketika aku menaiki anak tangga pertama, Jibril shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku dan berdo’a, “Semoga celakalah hamba yang mendapati Ramadhan kemudian berlalu darinya dan dosanya tidak diampuni!”
Maka aku mengucapkan: Amiin!
Kemudian Jibril berdo’a lagi, “Semoga celakalah hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya lalu keduanya tidak bisa memasukkannya surga (karena tidak berbakti)!”
Maka aku mengucapkan: Amiin!
Kemudian Jibril berdo’a lagi, “Semoga celakalah hamba yang disebut namamu di sisinya dan ia tidak bershalawat kepadamu!”
Maka aku mengucapkan: Amiin!”
(HR. Bukhari, Adab Al-Mufrad)
Bisa dibayangkan betapa ngerinya kegagalan di bulan Ramadhan, doa ini dipanjatkan oleh Malaikat yang paling mulia; Jibril, dan diaminkan oleh manusia yang paling mulia; Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-, siapa gerangan yang meragukan terkabulnya doa ini?!
Kelima, adanya perintah mempersiapkan jihad.
Sebagaimana Allah firmankan,
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 60)
Bila jihad sebagai puncaknya ibadah seorang muslim diperintahkan melakukan persiapan, maka ibadah-ibadah lainnya juga demikian.
Rajab Bulan yang Tepat Untuk Memulai Pemanasan
Di saat kita sedang berada di bulan Sya’ban; dua menuju Ramadhan, sejatinya kita sedang berada di bulan yang tepat untuk bersiap-siap. Para ulama salaf mengilustrasikan:
Rajab = Angin atau bulan tanam
Sya’ban = Mendung atau bulan merawat tanaman.
Ramadhan = Hujan atau bulan panen.
Sebagaimana mereka nyatakan,
مثل شهر رجب كالريح، ومثل شعبان مثل الغيم، ومثل رمضان مثل المطر، ومن لم يزرع ويغرس في رجب، ولم يسق في شعبان فكيف يريد أن يحصد في رمضان.
“Bulan Rajab itu ibarat angin. Kemudian Sya’ban seperti mendung. Lalu Ramadhan adalah bulan turunnya hujan. Siapa yang tidak menanam di bulan Rajab, maka tak mungkin akan menyiram-nyiram tanaman di bulan Sya’ban, apalagi memanen di bulan Ramadhan.”
Abu Bakr Al-balkhi -rahimahullah- mengatakan,
شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع.
“Bulan Rajab adalah bulan menanam. Lalu Syaban adalah bulan menyiram tanaman. Dan Ramadhan adalah bulan memanem dari apa yang telah kita tanam.”
Maksud pernyataan tersebut adalah, Rajab dan Sya’ban adalah bulan bersiap-siap dan pemanasan sebelum bertempur meraih kemenangan di bulan Ramadhan.
Wallahulmuwaffiq.
Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang siap berjumpa dengan bulan Ramadhan.
Ditulis oleh: Ahmad Anshori (ahmadanshori.aan)
Artikel: Remajaislam.com