Bismillah…
Laa haulaa walaa quwwata illa billah; tak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah, adalah kalimat dzikir yang mengandung pahala yang amat besar, dalam sebuah diterangkan bahwa kalimat ini merupakan salahsatu diantara perbendaharan surgawi. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari -radhiyallahu’anhu-, bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda,
يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ
“Ya Abdullah bin Qais.”
.قُلْتُ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Aku jawab, “Iya ya Rasulullah.”
Nabi melanjutkan,
، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ؟
“Mau tidak aku beritahu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?”
قُلْتُ : بَلَى ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي
“Tentu saja saya mau yang Rasulullah!”
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Yaitu dzikir LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH.” (HR. Bukhari no. 4205 dan Muslim no. 2704)
Ada sejmlah penafsiran dari para ulama tentang makna laa haulaa walaa quwwata illa billah:
1) Laa haulaa = tidak ada kekuatan untuk meninggalkan maksiat.
Walaa quwwata = tidak kekuatan melakukan amal kebaikan
kecuali dengan kehendak dan pertolongan dari Allah.
Imam Nawawi menjelaskan,
وقيل: لا حول عن معصية الله إلا بعصمته ، ولاقوة على طاعته إلا بمعونته، وحكى هذا عن ابن مسعود رضي الله عنه
‘Ada ulama yang berpendangan bahwa makna laa haulaa adalalah tak ada kemampuan untuk meninggalkan maksiat kecuali dengan penjagaan Allah, dan tak ada kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tafsiran ini dihikayatkan bersumber dari sahabat Ibnu Mas’ud -radhiyallahu’anhu-.” (Syarah Shahih Muslim 26/17).
2) Laa haulaa = tidak ada kekuatan untuk mencegah keburukan.
Walaa quwwata = tidak kekuatan untuk mengupayakan kebaikan,
kecuali dengan kehendak dan pertolongan dari Allah.
Sebagaimana diterangkan oleh Imam An-Nawawi -rahimahullah-,
وقيل: معناه : لا حول في دفع شر ، ولا قوة في تحصيل خير إلا بالله.
“Ada ulama yang menerangkan bahwa makna laa haula adalah berkenaan mencegah bahaya /keburukan dan walaa quwwata adalah berkenaan mencapai kebaikan, kecuali dengan pertolongan dari Allah.” (Syarah Shahih Muslim 26/17).
3. Laa haulaa = Allah tidak akan membebani hambaNya kecuali yang ia mampu.
Walaa quwwata = tidak ada yang mampu mereka lakukan kecuali itulah yang Allah bebankan.
Sebagaimana keterangan di dalam kitab Akidah At-Thahawiyyah,
ولم يكلفهم الله تعالى إلا ما يطيقون، ولا يطيقون إلا ما كلفهم، وهو تفسير لا حول ولا قوة إلا بالله .
“Allah tidak akan membebani hambaNya kecuali yang ia mampu. Dan tidak ada yang mampu mereka lakukan kecuali itulah yang Allah bebankan. Inilah tafsir kalimat laa haulaa walaa quwwata illa billah.”
4) Al-Haul artinya pergerakan, atau At-hawwul maknanya perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Adapun Al-Quwwah adalah kekuatan untuk melakukan pergerakan dan perpindahan. Sehingga laa haulaa makanya, tidak ada perpindahan atau pergerakan dari baik menjadi buruk atau dari buruk menjadi baik, dan walaa quwwata adalah kemampuan melakukan perpindahan dan pergerakan itu, kecuali dari Allah.
Imam Al-Harawi rahimahullah menyatakan, “Abul Haitsam menjelaskan,
الحول الحركة ، أي لا حركة ، ولا استطاعة إلا بمشيئة الله. وكذا قال ثعلب وآخرون.
“Al-Haul artinya pergerakan, sehingga maknanya tidak ada pergerakan, dan tidak ada kemampuan kecuali dengan kehendak Allah. Demikian pula yang diterangkan oleh Tsa’lab dan yang lain.” (Syarah Shahih Muslim 26/17).
Makna yang terakhir inilah yang tampaknya lebih kuat, ini yang dipegang oleh mayoritas ulama (jumhur). Karena kalimat dzikir ini tidak membantasi laa haulaa berkenaan maksiat saja dan walaa quwwata berkenaan ketaatan saja. Sehingga penafsiran yang lebih tepat adalah kalimat ini bermakna umum setiap perpindaha, perubahan dan pergerakan. (Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah, 5/574-575).
Imam Ibnul Qoyyim memberikan motivasi untuk sering-sering mengucapkan laa haulaa walaa quwwata illa billah di dalam kitab beliau “Zaadul Ma’ad”:
وَأَمَّا تَأْثِيرُ ” لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ” فِي دَفْعِ هَذَا الدَّاءِ [ يعني : داء الهم والغم ] : فَلِمَا فِيهَا مِنْ كَمَالِ التَّفْوِيضِ، وَالتَّبَرِّي مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ، إِلَّا بِهِ ، وَتَسْلِيمِ الْأَمْرِ كُلِّهِ لَهُ، وَعَدَمِ مُنَازَعَتِهِ فِي شَيْءٍ مِنْهُ .
وَعُمُومُ ذَلِكَ لِكُلِّ تَحَوُّلٍ مِنْ حَالٍ إِلَى حَالٍ فِي الْعَالَمِ الْعُلْوِيِّ، وَالسُّفْلِيِّ، وَالْقُوَّةِ عَلَى ذَلِكَ التَّحَوُّلِ، وَأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ بِاللَّهِ، وَحْدَهُ فَلَا يَقُومُ لِهَذِهِ الْكَلِمَةِ شَيْءٌ.
وَفِي بَعْضِ الْآثَارِ إِنَّهُ مَا يَنْزِلُ مَلَكٌ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَا يَصْعَدُ إِلَيْهَا إِلَّا بِلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ .
وَلَهَا تَأْثِيرٌ عَجِيبٌ فِي طَرْدِ الشَّيْطَانِ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.
“Pengaruh “La haula wa la quwwata illa billah” dalam mengatasi kekhawatiran dan Kesedihan. tentang pengaruh kalimat “La haula wa la quwwata illa billah” dalam mengatasi penyakit hati seperti kekhawatiran dan kesedihan. Karena kalimat ini mengandung kesempurnaan tawakal dan penyerahan diri kepada Allah, pengakuan bahwa tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali milik Allah, pasrah segala urusan kepada Allah dan tidak menampakkan protes sedikitpun terhadap ketetapanNya.
Makna umumnya adalah setiap perubahan dari satu keadaan pada keadaan yang lain di alam atas dan bawah, dan kekuatan melakukan perubahan itu, semuanya dari Allah semata.
Berdasarkan beberapa riwayat diterankan bahwa Malaikat pun tidak dapat turun dari langit atau naik ke langit tanpa mengucapkannya. Juga memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengusir setan. Hanya kepada Allah memohon pertolongan.” (Zaadul Ma’ad 4/193).
Referensi:
Islamqa. معنى لا حول ولا قوة إلا بالله, retaived form: https://islamqa.info/ar/answers/292339…
Penulis: Ahmad Anshori
Artikel: Remajaislam.com